GOPENG

GOPENG
JOM HAPUSKAN KLEPTOKRASI

Saturday, July 11, 2015

Etika menyampaikan nasihat

Ada yang menarik dari soal-jawab antara Mufti Ismail Menk dan seorang akhwat dalam sebuah acara Ramadhan 1436 Hijriyah ini, yakni bagaimana cara seorang ikhwan menasehati wanita berlipstik keterlaluan. Subhanallah. 

Ketua Departmen Fatwa Dewan Ulama Islam Zimbabwe atau dikenal sebagai Majlisul-Ulama Zimbabwe itu menjawabnya dengan sangat sederhana dan jauh dari kesan menegangkan.

Terkadang ada orang yang bermaksud menasihati saudaranya namun caranya tidaklah tepat, awalnya ingin membetulkan kesalahan justru hasilnya sebaliknya, yang dinasihati malah semakin menjadi kemungkarannya. 

Sesungguhnya tujuan nasihat adalah supaya orang yang dinasihati kembali pada kebenaran, bukan semangat mencelanya. Sehingga perlu diperhatikan adab-adabnya agar nasihat lebih mudah diterima. 

 Berikut kutipkan tausyiah Mufti Ismail Menk yang juga Imam Masjid Al Falaah di Harare dari sebuah video pada Youtube, Kamis (9/7/2015).Ighfirlana yaa Rabbana. Aammiin.

Soalan : Bolehkah seorang ikhwan menegur seorang teman wanitanya yg muslim kerana meklanggar batas syariat? Misalnya ikhwan tersebut menegur temannya yg lipstick keterlaluan? 

Masya Allah, saudariku, kira-kira kenapa si ikhwan memperhatikan lipstiknya? Jika ikhwan tersebut mahu menegur saudarinya secara baik-baik, saya tidak akan langsung menegurnya : “Lipstikmu keterlaluan!” untuk menjaga perasaannya. Jika saya menemukan saudari yg full mekap, yg pertama sekali saya lakukan (semoga Allah menguatkanku) adalah menundukan pandangan. 

Saya berfikir realistik sahaja saudaraku. Jgn fikir saya tak seperti pria lainnya, saya sama sahaja seperti kalian. Jadi saya akan berusaha menundukan pandangan dan berusaha tidak memalukan saudari tersebut; di tempat dan waktu yang salah.

 Astaghfirullaah, Laa haula wa laa quwwata illa billaahi…. Ark.. phuit! Apa yang kamu lakukan? Nantinya ia akan membenci orang-orang beragama dan berkata :  “Apa sih, orang itu?!”

 Engkau harus cari momen yg tepat dan menunjukan bahawa kamu peduli pada saudarimu sesama muslim. Bahawa dirinya bukanlah objek. Pelan tapi pasti tanpa banyak bicara aka nada perkembangannya kerana mereka nantinya akan berfikir : “Aku tidak diciptakan untuk menjadi objek kesenangan pria”

 Terkadang saya juga berdialog dengan wanita non-muslim, saat ada kesempatan yg tepat.

 Mereka berkata : “Saya gembira ketika semua pria memandangku dan sangat jengkel kalau mereka tidak memandangku!” Ini kejadian ketika saya berkunjung ke salah satu Negara eropah. Saya sedang berjalan dan melewati wanita yg berpakaian ‘dress to kill’! 

Subhanallah kerana pertolongan Allah, dan kita selalu menghubungkannya pada Allah kerana kita hanya manusia biasa. Saya tidak memandangnya, tidak mengusiknya sama sekali.

Beberapa saat kemudian dia mendatangiku dan berkata : “Kenapa kamu tindak memandangku?!” 

Astghfirullaah, akhirnya saya pun melihatnya. “Tidak saudariku, saya sangat menghargaimu…” Ini kejadian beberapa waktu yg lalu dan kejadian yg pernah menimpa ulama kita di masa lalu.Saya pernah menceritakannya dalam beberapa ceramah. Saya berusaha menasihatinya dgn cara yg tepat.Cara yg penuh penghormatan dan penghargaan.

Adalah kewajipan memperbetulkannya. Jika engkau menemukan kekeliruan maka harus memperbetulkannya. Jika mahu membetulkan sesuatu maka sesuaikan dgn levelnya. Tapi jgn sekali-kali berlaku kasar.

 Allahu ta’ala berkata kpd Rasulullaah Syalallaahu alaihi wa sallam : 

 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan …”(Q.S. Ali Imran : 159). 

Penerapannya tetap sama, setiap muslim termasuk diriku perlu mengoreksi diri. Bayangkan jika seseorang datang dan menegurmu : 

“Tolol! Tak berguna! Awas ucapanmu, awas perilakumu …” Pasti kamu tidak menghargainya kerana begitulah tabiat manusia.

 Tapi jika kamu datang dgn ucapan : “Maa syaa Allaah saudaraku, semoga Allah memberkahimu dan sepertinya..”

 Namun jika yg kamu hadapi wanita, maka seperlunya sahaja, tapi paling tidak engkau ada rasa prihatin. Terkadang dalam pergaulan, seorang muslim lebih memilih bergaul dgn teman-temanya yg non-muslim. Ini sesuatu yg menggangguku, saya tidak mengerti apa alasannya. Saya bukannya melarang komunikasi antara muslim dan non-muslim. Maksud saya, wanita yg malang itu mencari seorang muslim, mungkin mengharapkan kamu.

 Saya teringat seorang muslimah yg terdorong di tempat kerjanya hanya kerana melihat rakan-rakan di pejabatnya yg tidak pernah meninggalkan solat. Saudari tersebut bercerita :

 “Saya punya teman di pejabat yg tak pernah meninggalkan solat. Saya malu kerana biasa melintasinya saat makan tengahari tapi tak melakukan apa-apa. Lalu saya berkata kpd diri saya sendiri , “Jika dia mampu lakukannya, saya juga boleh!” Dan tiada komunikasi diantara mereka. Banyak cara yg boleh dilakukan. Adalah merupakan satu tanggungjawab kita untuk saling menasihati. Tapi dengan cara yg bijak dan penghargaan, kita dengar firma Allaahu ta’ala :


 “Serulah (manusia) kpd jalan tuhanmu dgn hikmah” (an-Nahl:125) 

 Jangan mengajak mereka dengan kalimat sepontan yg muncul dari kepalamu. Tenang, berfikir dan berdoa kpd Allah agar diberikan petunjuk. Kemudian lakukan sesuatu misalnya dgn mengirim email yg indah.

 Ketika kamu menghantar email, ada etika yg harus diperhatikan.Kerana kalau kamu asal saja mengirim email ke teman kerjamu, seperti yg dikatakan saudari penanya tadi.

 “Saudari, kamu pakai lipstick keterlakuan, itu perbuatan haram. Warna lipstikmu merah sama seperti api merahnya Jahanam!” Ada cara berkomunikasi yg baik: 

 “Masya Allah saudariku, semoga Allah menguatkanmu, menolongmu, memberkahimu ….Semoga Allah menganugerahkanmu kebaikan. Saya banyak sekali kelemahan, mohon ingatkan saya jika engkau menemukannya. Tolong jangan berasa buruk saat aku menasihati mu. Jika bukan kerana kewajipan sebagai muslim, maka saya tidak akan menghiraukannya. Namun saya merasakan ada ganjalan yang mungkin sebaiknya kamu ketahui. Sebelum saya menyampaikannya, jika ada kesalahan dariku izinkanlah aku mengetahuinya…. Poin yang ingin saya sampaikan adalah : Kiranya engkau berkenan mempertimbangkan kembali, caramu berdandan. Saya merangkainya dengan penuh hati-hati.

 Ini contoh sahaja berkenaan dgn pertanyaan saudari tadi. Itu lebih enak didengar, orang yg menerimanya akan mengucapkan :

 “Jazaakumullaahu khair, aku sangat menghargainya, doakan aku” 

Kerana apa yg engkau ucapkan, semua itu kembali kepada caramu menyampaikan. Semoga Allah menganugerahkan kebaikan dan kebijaksanaan dalam melakukan kewajipan untuk saling menasihati.Wallahu a’lam. Sila mainkan vdonya :
Comments
1 Comments

1 comment :

Anonymous said...

Jika ikut kaedah yg digunakan oleh wala'un dlm PAS mutakhir ini, mereka lebih selesa dgn cara boo. Tidak cukup dgn itu, diberi pula gelaran barua, jebon, parasit dan doa laknat lagi. Dan pastinya, bukan itu sahaja.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...